Dari Bangkok Ke Kuala Lumpur (Sebuah Reportase oleh Rahmad Prasetya)

Tulisan dan Foto oleh Rahmad Prasetya

Rahmad Prasetya adalah seorang profesional farmasi muda alumnus Universitas Airlangga Surabaya dan sekarang bekerja menerapkan keahliannya di Rumah Sakit Mitra Bangsa, Pati-Jawa Tengah

Menjejakkan kaki di belahan bumi yang lain merupakan salah satu impian yang telah lama saya tuliskan ke dalam daftar panjang target kehidupan buatan sendiri. International Pharmaceutical Student’s Federation (IPSF) World Congress dan Hasil studi tim di Universitas Airlanga tentang potensi Jahe dan Kunir untuk Terapi menghadapi Infeksi Virus H1N1 mengantarkanku untuk kali pertama  menuju Suvharnabumi International Airport Bangkok, Thailand di Bulan Agustus 2011.

Saat awal turun dari pesawat dan menginjakkan kaki di Bangkok, saya sudah disambut dengan kemegahan Bandara Internasional yang sangat berkelas Internasional. Antrian panjang pada puluhan loket imigrasi foreigner pasport menyambutku. Tampaknya memang negara ini cukup berhasil mendatangkan banyak turis setiap harinya. Orang-orang di sini pun sudah terbiasa berkomunikasi dengan turis asing dengan bahasa Inggris. Dari sopir taxi, sopir tuk-tuk, penjual gorengan/jajanan di pinggir jalan, sampai petunjuk jalan dan operator sound (suara operator) di kereta semua berbahasa Inggris.

Keesokan harinya saya bersama seorang teman mengelilingi kota Bangkok. Sekilas Bangkok tak ubahnya seperti Ibukota negara lainnya, hanya saja di sini banyak dijumpai Wat (Candi). Ya karena memang Wat merupakan tempat ibadah bagi mayoritas penduduk Thailand yang memeluk agama Budha.

Tak lengkap rasanya berkunjung ke kota Bangkok tanpa melihat Chao Praya River. Sungai ini cukup lebar dan ramai dengan segala macam perahu berhias berbagai ukiran khas Thailand. Di sepanjang tepi sungai ini juga berdiri berbagai hotel bintang lima dan juga Wat-wat indah dengan kubah menjulang tinggi. Pengelolaan yang profesional menjadikan sungai ini menarik untuk dapat dinikmati. Perahu yang memang dijadikan sebagai sarana transportasi bagi penduduk lokal.

Walaupun masih terlihat macet di beberapa titik di pusat kota Bangkok, namun anda tidak akan kesulitan untuk mencari alat transportasi menuju tempat yang diinginkan. Kereta cepat dibagi menjadi dua macam, subway dan MRT. Keduanya saling terhubung dengan koneksi yang cukup untuk menjangkau segala penjuru kota. Bus kota yang tersedia pun cukup nyaman walau masih ada beberapa yang sudah ‘uzur’, bahkan ada yang tersedia gratis bagi para wisatawan untuk menuju spot-spot wisata.

Setelah menjelajahi Bangkok dalam waktu singkat ini, jadwal kereta saya menuju Hatyai sudah menunggu. Hatyai merupakan kota di sebelah selatan Thailand, tidak terlalu besar, bisa dibilang seperti halnya di Surabaya. Tapi sayangnya, kekaguman atas sistem transportasi di Bangkok tidak sepadan dengan kereta api antar kota yang tersedia. Kereta api yang katanya kelas bisnis ini ternyata jauh dari harapan. Hampir seharian saya terduduk di kereta, padahal seharusnya perjalanan hanya ditempuh selama 12 jam. Sebelah kanan-kiri hanya orang thailand yang saya temui. Banyak yang menganggap saya penduduk lokal dan tiba-tiba mengajak bicara dengan bahasa sansekerta.

Saat awal perjalanan menyusuri pinggiran kota Bangkok, ada sedikit pemandangan aneh di sepanjang pinggiran rel kereta api. Rumah-rumah yang terdapat di sepanjang pinggiran rel kereta api sekilas memang tidak terlalu mewah, sederhana tetapi tidak kumuh seperti kebanyakan di Indonesia, dan yang paling penting di setiap rumah terdapat garasi yang berisi mobil-mobil SUV maupun sedan. Entah itu milik si penghuni rumah atau titipan saja, yang jelas dapat saya asumsikan bahwa penduduk yang berada di pinggiran rel sekalipun tercukupi kebutuhan hidupnya. Pemandangan di sepanjang perjalanan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang kita temui saat berkereta di Indonesia, tanah sawah, perkebunan, hutan, gunung, semuanya tampak familiar di mata saya. Jika boleh saya berasumsi lagi, lahan yang dipakai untuk perkebunan di sini lebih banyak dibanding lahan untuk persawahan. Dari sepanjang pemandangan di pinggiran rel ini, saya bisa melihat bagaimana Thailand men-develop warganya di berbagai bidang. Lahan perkebunan yang tertata rapi dengan petani yang sekilas terlihat membawa mobil tengah mengelilingi area perkebunannya, fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola pun terlihat profesional dengan tanah yang rata walau terletak di sekitar pedesaan, gedung sekolah yang megah!

Setelah hampir 24 jam berada di kereta, akhirnya sampai juga di Hatyai, sebuah kota kecil di selatan Thailand. Di sini juga banyak penduduk berbahasa melayu, walau katanya pemerintah tidak mengijinkan penggunaan bahasa selain Thai. Bisa dikatakan di sini bilingual (Melayu-Thai), dan tetap banyak yang mahir berbahasa Inggris. Turis asing juga tampak yang berseliweran walau tak seramai di Bangkok. Di kota ini, sebenarnya saya sedang mengikuti IPSF (International Pharmaceutical Student’s Federation) World Congress.

Rahmad Prasetya bersama hasil studi tim-UNAIR-nya di IPSF, Hatyai, Thailand

Rahmad Prasetya bersama hasil studi tim-UNAIR-nya di IPSF, Hatyai, Thailand

Spot wisata di sini cukup sederhana. Yang menarik buat saya adalah bagaimana mereka mengelola kebersihan. Penduduk di sini tampaknya sudah mengerti bagaimana menjaga kebersihan, tidak hanya di jalan-jalanya, sungaipun terlihat masih jernih. Sekolah dan kampus senantiasa berdiri megah dengan segala kelengkapan fasilitasnya, baik yang menunjang kegiatan kurikuler maupun kegiatan ekstra kurikuler khususnya olahraga. Tak heran jika Thailand selalu menjadi lawan berat kita di berbagai ajang kompetisi olahraga apapun. Tempat-tempat untuk berbelanja dan wisata lainnya senantiasa terlihat tertata rapi, bersih, lengkap dengan fasilitas pendukung, transportasi memadai menuju ke sana, keramahan penduduknya, dan mudah dalam berkomunikasi. Segala hal yang walau spot wisata ini sederhana namun sangat nyaman untuk dinikmati.

Sepuluh hari di Hatyai bersama para pelajar farmasi internasional akhirnya rampung. Saya melanjutkan perjalanan darat menuju Kuala Lumpur (KL). Kapok pakai kereta, kali ini saya memilih Bus Eksekutif. Perjalanan kurang lebih 900km menuju Kuala Lumpur hanya ditempuh selama 8jam saja, karena memang sepanjang perjalanan kami melewati jalur nasional seperti halnya kita lewat tol. Tol ini benar-benar panjang, mungkin seperti Surabaya-Semarang.

Di KL saya beruntung karena bisa menumpang di rumah teman yang dulu juga satu angkatan di kampus. KL tak ubahnya seperti Bangkok, sistem transportasi seperti MRT, monorel, bus kota, semuanya telah ada sejak beberapa tahun yang lalu dan terlihat maraknya pembangunan di sana-sini untuk menambah koneksi dan jangkauannya. Semuanya cukup nyaman untuk dinaiki ke manapun tujuannya. Saya pun tidak melihat pengemis, pengamen, atau bahkan gelandangan di KL. Mungkin saja pelayanan sosial dari zakat dan infaq di KL sudah cukup apik sehingga membuat tidak ada lagi orang mengemis di kota tersebut.

Dengan banyaknya kelebihan yang saya lihat di Kuala Lumpur, Hatyai, dan Bangkok, saya berkesimpulan seharusnya Indonesia juga bisa memiliki kualitas positif itu. Saya pun menasihati diri saya sendiri dengan tulisan ini, “Kontribusi kreatif saya untuk menyelesaikan masalah-masalah Indonesia dengan bumbu yang khas sangat dibutuhkan!”

Kontribusi kreatif saya untuk menyelesaikan masalah-masalah Indonesia dengan bumbu yang khas sangat dibutuhkan!

Iklan

One thought on “Dari Bangkok Ke Kuala Lumpur (Sebuah Reportase oleh Rahmad Prasetya)

  1. kita lbh dulu merdeka…tp skrg kita sdh jauh tertinggal…pdhal dulu mrk belajar sm kita (indonesia)….tp mrk punya pemimpin yg niat membangunan bangsa melayu modern…bagaimana turis lbh byk kesana…dr segi fasilitas umum saja kita sdh tertinggal…jkt macet..mahal..banjir…ayo dukung jokowi utk kereta api mrt…masa membangun untuk rakyat hitung2….nasib negaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s