
Fotoku ini diambil di akhir semester 8 memasuki awal-awal semester 9. Wajahku yang menatap kosong, tanpa senyum ini akan selalu mengingatkanku pada momen yang terjadi saat itu.
Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barokatuh
Saya sangat merasa terhormat, bisa hidup di tengah-tengah sahabat-sahabatku semua, sempat belajar dengan ustadz, guru, dan dosen di tiga kota ternama, Bandung, Surabaya, juga Solo.
Satu hal ingin saya utarakan di sini, saya sungguh bersyukur bahwa 4.5 tahun lalu, Allah menganugerahkanku kuliah jurusan PWK di ITS, salah satu jurusan paling diminati di seluruh dunia di salah satu kampus paling kondusif di Indonesia. Juga bisa kuliah hingga Semester 9. Semester gasal ini menemaniku dengan banyak momentum inspiratif. Dengan artikel ini, Saya ingin berbagi tiga kisah selama perjalanan kuliahku itu. Tidak banyak-banyak, hanya tiga kisah.
Kisah pertama adalah perjalanan yang tidak terputus
Empat setengah tahun yang lalu, lulus dari SMA Assalaam solo, Ada dua universitas yang berkenan menerimaku, yaitu Teknik Industri Pertanian UGM dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS. lulusan SMA yang normal-normal saja ini telah dinyatakan diterima dua universitas ternama di Indonesia.
Bagiku, kondisi ini adalah suatu pilihan berat, karena pertanian dan PWK adalah dua pilihan yang saya sukai dan minati. Namun dengan istikharoh dan memahami masalah yang esensi dan kenyataan bahwa: Bandung adalah kota kelahiranku yang sedang menghadapi masalah sampah dan perlu diselamatkan membuatku memilih PWK,.
Selama perkuliahan, diri ini mencari-cari inovasi manajemen limbah padat kota, yang puncaknya adalah membuat Tugas Akhir Pertama dengan judul Konsep Manajemen limbah Padat Kota berbasis Sistem Informasi dengan Visi Nol Sampah. TA ini secara teknis dibimbing dua dosen yang keduanya menjabat sebagai Kepala Program Studi. Saat Seminar, proposal dan judul adalah hasil bimbingan Ir. Eko Budi Santoso. Lic Rer Reg, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Program Studi di Semester 7 dan saat Tugas Akhir (Skripsi) dibimbing oleh Ir. Sarjito, M.T, Kepala Program Studi yang baru mulai Semester 8.
Tugas akhir ini selesai, namun tidak cukup layak untuk membuatku lulus dengan gelar S.T. Hal itu cukup membuatku down, karena takut mengecewakan banyak orang, diantaranya dua orang terhormat di PWK ITS yang telah membimbingku. Namun melihat ke belakang, Penolakan ini adalah kenyataan terbaik yang dapat terjadi. Jika saja Tugas akhir Pertama saya tidak ditolak, Saya tidak akan sempat untuk mengetahui dan mempelajari tentang minatku tentang pertanian organik yang tidak kalah penting dibandingkan dengan manajemen limbah padat.
Singkat Cerita, diri ini harus membuat Tugas Akhir yang kedua. Bersyukurlah, Tugas akhir yang kedua ini dibimbing oleh seorang Doktor, Dr. Ir. Rimadewi Supriharjo, MIP. Yang memberi pesan bahwa Tugas akhir itu harus sesuai passion yang membuatnya. Ide pun muncul, dengan Judul Konsep Penentuan lokasi Pertanian Organik di Kabupaten Sidoarjo. Keputusan tema ini cukup menguras tenaga, karena semuanya harus dimulai dari awal, Pertanian organik tidak pernah dibahas saat perkuliahan. Saat itu saya mesti mencari literatur di bogor dan keliling kota Sidoarjo. Saya sangat awam tentang kota itu dan tidak cukup lancar berkenderaan motor. Tapi akhirnya itu semua bisa diselesaikan, dengan rahmat dari Allah dan belas kasihan dosen serta bantuan teman-teman lintas angkatan di Jurusan ini, Wildha, Zakaria serta Dimas dari angkatan 2004 dan Udan serta Adhi dari angkatan 2007.
Awalnya, Membuat tugas akhir tentang pertanian ini tidak pernah benar-benar terpikirkan olehku di awal-awal perkuliahan, yang ada dipikiran ini hanya permasalah manajemen sampah kota. Tapi melihat ke belakang, Diri ini tidak pernah lupa, bahwa sebenarnya, saya sangat mencintai pertanian. Ketika membuat Tugas akhir ini, Rasa cinta itu membawa semua energi kembali padaku. Alhamdulillah, Tugas ini selesai dan akhirnya saya bisa lulus S1.
Peristiwa saat lulus SMA 4.5 tahun lalu ternyata tidak terputus. Seakan ilmu-ilmu pertanian itu memanggil setelah dicuekin olehku selama 8 semester. Karena itu, kita semua harus yakin, bahwa tiap peristiwa yang kita alami bagaimanapun juga, akan turut menentukan masa depan kita. Kita harus selalu yakin tentang gen, takdir, kehidupan anda, hukum tarik-menarik (dalam the Secret) atau apapun itu. Dengan yakin akan hal-hal ini, saya tidak pernah terlalu kecewa dengan apa yang saya hadapi. Dan juga, telah membuat banyak perbedaan dan perubahan di kehidupanku.
Kisah yang kedua adalah tentang rasa cinta dan kehilangan
Selama kuliah, saya membuat rekaman akademis cukup baik, sehingga keyakinan untuk lulus cumlaude hampir rasa-rasanya akan terwujud bentar lagi di Semester 8. Untuk lulus, Saya membuat tugas akhir yang pertama. Sebagaimana yang telah saya kisahkan sebelumnya, Hasil akhir TA ini dinyatakan kurang dari standar jurusan, TA yang pertama ini harus diganti. Tidak main-main, semuanya harus diganti mulai judul. Saya mesti tambah satu semester lagi untuk membuat yang baru. Saat itu, semua mimpi selama 4 tahun untuk lulus dengan cumlaude, hilang sirna seketika.
Saya menjalani ini cukup berat, mengalami peristiwa seakan kepala ini terbentur pada sebuah tembok. Saya pun merasakan bagaimana jadi orang gila, bersepeda di tengah malam sambil melihat ke langit. Saat itu, bisa dikatakan saya adalah orang yang gagal. Penuh perasaan khawatir mengecewakan banyak orang, terutama kedua orangtuaku. Bahkan saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah. Namun perlahan, peristiwa-peristiwa menyegarkan datang padaku. Bahwa saya masih cinta dengan apa yang telah saya lakukan. Saya suka Tugas Akhir ku. TA yang pertama memang sudah ditolak, tapi saya masih suka!
Nasihat datang-datang bertubi, dari orang tua, dari dosen, juga dari teman. Namun nasihat pertama datang dari Dimas Setyawardhana, Alumnus PWK 2008, temanku dari Riau. Terima kasih untuk nasihat tetap melanjutkan kuliah S1nya.
Kegagalan ini merubahku dari orang yang menanggung berat harapan menjadi mahasiswa cumlaude, menjadi mahasiswa normal, yang penuh kepasrahan dan tidak terlalu memaksa pada hal apapun. Saat itu, saya masuk pada periode paling mengasyikkan selama kuliah. Tidak lulus di semester 2008 memang yang terbaik untukku. Dan Semester 9 menjadi semester yang terbaik selama perkuliahan di ITS. Allah memang selalu mencintai setiap hambanya.
Saat itu Saya diberi waktu sangat-sangat leluasa untuk refreshing serefresehing-refreshingnya di Bulan Ramadhan tahun 2008. Saya tidak sibuk dengan urusan wisuda. Bulan Ramdhan itu pula, ide untuk TA tentang pertanian muncul dan dikabulkan, dan salah satu dosen terbaik ITS, Dr. Ir. Rima Dewisupriharjo, MIP berkenan untuk menjadi dosen pembimbingku. Tidak lama-lama juga, panggilan untuk wawacara penghargaan Beasiswa KAUST Discovery pun datang di bulan itu juga. Hasil wawancara pun, tidak jauh2, kepastian diterima untuk KAUST Discovery juga hadir di bulan ramadhan. Oh, nikmat itu datang bertubi-tubi. KAUST pun mengubah jurusan saya, yang awalnya Civil-environmental engineering, menjadi Environmental Engineering and Science, yang salah satu fokusnya adalah Hazardous Waste Management, kurang lebih agak mirip sedikit dengan tema TA-pertamaku yang juga saya tulis di Statement of purpose saat mendaftar KAUST. Setelah Ramadhan, Saya sempat menonton film laskar pelangi, yang mengingatkan ku untuk bertemu guru-guru TK ku di Bandung, melepas rindu, memohon restu, dan minta maaf atas segala kesalahan dan kenakalan yang aku lakukan masa kecil dulu. Sungguh, sangat asyik!
Saya sangat yakin, semua ini adalah rahmat Allah, kejadian yang terbaik yang bisa terjadi padaku. Penolakan TA itu awalnya adalah obat yang sangat pahit, tapi saya kira setiap pasien membutuhkannya. Kadang-kadang kenyataan itu membeturkan kepala ini pada tembok dengan sangat keras. Namun, setiap diri ini jangan hilang keyakinan dan iman. Saya yakini, bahwa yang membuatku terus berjalan adalah saya menyukai apa yang saya lakukan. Kita semua harus menemukan apa yang kita sukai. Pekerjaan itu akan memenuhi kehidupan kita. Untuk menjadi benar-benar terpuaskan, adalah meyakini bahwa yang kita lakukan adalah sesuatu yang hebat. Dan satu-satunya cara untuk mengerjakan sesuatu yang hebat adalah dengan mencintai pekerjaan kita. Jika diantara kita masih ada yang belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan pernah berhenti. Karena ini adalah urusan hati, diri ini akan tahu ketika menemukannya. Dan hubungan antara kehidupan dan pekerjaan yang dicintai ini akan makin indah saja dari waktu ke waktu. Jadi tetaplah mencari, jangan berhenti.
Kisah ketiga adalah Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, semuanya adalah milik Allah dan akan kembali padaNya.
Kira-kira 6 February 2009, Saat itu saya baru saja menyelesaikan analisa triangulasi bersama Dosen sekaligus Ibuku di Surabaya, Bu Dr.Ir Rima Dewi Supriharjo melalui Internet, Chating, dan email. Ketika saya balik ke Kosku, satu kondisi aneh terjadi, Laptopku, ASUS M6NE salah satu merek Laptop dengan penuh penghargaan di tahun 2004, tidak ada diposisinya. Oh, Pencuri telah masuk kamarku! Dia telah mengambil laptopku. Semua file tugas akhir ini terpaksa hilang bersama laptopku. Saya ingin benar-benar teriak. Tapi saya berdiam dan merenung untuk melakukan hal-hal yang penting saja, memohon rahmat dan belas kasihan Allah. Karena dua hari lagi, Berkas TA harus dikirimkan ke Bapak Ir. Putu Rudy Satiawan, Msc, penguji TA-ku dan juga Koordinator Tugas Akhir jurusan.
Ternyata Allah memang tidak pernah mendzolimi hambanya. Saat itu, aku dianugerahkan hidup di Karang Menjangan, Kosnya anak-anak Unair. Saat itu, UNAIR masih libur. Teman-temanku Frendika dan Suyanto, keduanya mahasiswa Hukum, berkenan meminjamkanku sebuah laptop dan sebuah printer. Selain itu, Alhamdulillah data-data update isi Tugas akhir terupdate masih ada di flash disk, dan hardcopy terakhir masih ditangan. Saya scan semua peta analisa yang telah dilakukan karena tidak banyak perubahan di hasil analisa peta, saya ketik ulang daftar pustaka dan beberapa lampiran karena tidak tersave di flash disk. Dan saya perbaharui isi TA dengan memasukkan masukan-masuka terakhir dari Bu Rima. Akhirnya, TA bisa selesai pada Sabtu Sore tanggal 7 Februari 2009, dan malemnya Pak Rudi menyetujui hasil TA ku. Alhamdulillah, rasa sedih kehilangan itu hilang dengan rasa syukur berakhirnya tugas akhirnya dengan benar-benar selesai di hari Senin tanggal 9 Februari 2009.
Mengingat tentang kisah raibnya laptop yang telah setia menemaniku selama 4.5 tahun, memberiku pemahaman lebih, bahwa benda itu sebenarnya hanya titipan. Bahwa semua yang bersama kita, bahkan nyawa kita pun adalah hanya titipan Allah, Tuhan setiap manusia. Dengan mengingat hal ini, kita semua sudah tidak lagi punya alasan untuk tidak menggunakan setiap titipanNya dengan sebaik-baiknya, termasuk menggunakan hidup, sisa-sisa nafas ini untuk manfaat terbaik.
Berhentinya suatu nafas, momen ketika Allah mengambil nyawa kita, pasti akan terjadi. Hal ini akan membersihkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Semua hal, rasa bangga, rasa sedih, perasaan malu, prestasi akan hilang, hanya meniggalkan hal yang benar-benar penting yaitu, ilmu yang manfaat, shodaqoh jariyah, dan anak yang sholeh. Saat ini, kita yang baru lulus akan menjadi manusia yang baru, tapi suatu saat nanti tidak lama dari sekarang, kita, sahabat-sahabatku yang lulus saat ini akan menjadi tua secara bertahap dan akan juga hilang dari muka bumi. Saya mohon maaf, jika terlalu dramatis.
Waktu kita sangat terbatas, jadi jangan buang-buang waktu. Jangan terikat dengan dogma, yang menggantungkan penilaian berdasarkan penilaian orang lain. Jangan biarkan suara-suara bising luar menggangu suara hati nurani. Dan yang terpenting, berani untuk ikuti kata hati. Kadang-kadang hati nurani sudah lebih dahulu tahu apa yang sebenarnya kita cari. Yang lainnya tidaklah lebih penting.
***
Saya sempat menikmati kisah laskar pelangi. Saat itu saya cukup terpaku dengan nasihat kepala sekolah dasar Muhamadiyah Gantong. kepala sekolah tersebut mencintai agamanya dan generasi penerus walaupun dengan hidup yang serba terbatas. Suatu saat, Dia mengumpulkan murid-muridnya, dan dengan jelas dia menyebutkan nasihat yang sangat penting dengan mata dan wajah menghadap serius kepada si ikal, masa kecil Andrea Hirata. Jadilah orang yang banyak memberi, jangan jadi orang yang banyak menerima. Setelah nonton, rasa-rasanya saya merasa lebih bahagia dan tubuhku terasa lebih ringan, menemukan konsep hidup yang sangat bagus. Saya selalu beharap untuk diriku agar dapat seperti itu, banyak memberi dan tidak banyak menerima. Dan saat ini saya harapkan nasihat ini untuk sahabat-sahabatku.
Jadilah orang yang banyak memberi, jangan jadi orang yang banyak menerima.
Saya tutup artikel ini dengan doa dari rasulullah SAW yang sangat pas bagi siapa saja yang menuntut ilmu:
Ya Allah, Kami semua berlindung kepada mu dari ilmu yang tidak manfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.
Amiin, ya Robbal ‘alamin
Mohon maaf atas segala perkataan yang kurang berkenan, terima kasih banyak semuanya.
Wassalaamu’alaikum Wa rohamtullah wa Barokatuh.
Fahmi Machda
Filed under: Refleksi | 4 Comments
Tags: cinta, cumlaude, Ilmu, innalillah, its, kehidupan, kehilangan, memberi, perjalanan, pwk, Refleksi, semester9
waah…
baca tulisan fahmi bener2 bikin semangat.
kadang2 aku merasa jadi orang paling malang di dunia ini.
aku gak tau apa teman2ku jg pernah merasa begitu.
aku jg gak tau apa perasaan macam itu cuma bawaan siklus bulanan.
atau krn aku cwe yg sangat mengedepankan emosi.
tapi saat aku merasa jd orang paling malang sedunia, tidak lama selalu ada yg ‘peringatan’ dari Sang Empunya Hidup.
saat aku merasa jelek, aku bertemu orang yg wajahnya hancur krn terbakar..
saat aku merasa bodoh, aku bertemu anak teman ibuku yang tuna grahita ..
saat aku menginginkan sepatu bagus, aku bertemu bapak2 yg tak punya kaki di jembatan penyeberangan..
kita harus selalu bersyukur..
kata ayahku, “kalau kau berjalan jangan selalu menatap depan nanti jatuh ke lubang. jangan selalu menatap ke belakang nanti kepalamu terantuk. sekali2 tatap ke depan,juga ke blkg. seimbanglah hidupmu. jika kita selalu melihat ke atas, kita tak akan pernah puas,tak mau memberi,dan merasa kita adalah orang paling malang di dunia. dan jika selalu melihat ke bawah kita tidak akan punya mimpi lg. merasa segalanya sudah ditangan.”
hidup kita masih panjang. ketika kmu mengalami sebuah masalah nantinya, kmu tinggal mengingat masalah2 terbesarmu saat kuliah kmrn. dan akan merasa bahwa mslh itu tidak apa2nya. kmu sudah pernah berhasil melewati yang jauh lebih besar.
itu proses pendewasaan. mana mungkin kita bisa menyebut diri tegar jika tidak pernah melewati masalah besar, tidak pernah menangis, tidak pernah merasa lemah, merasa gagal, dan berhasil melewati itu semua?
enjoy your life.
cheers,
MITA
Mas Fahmi
aku ga tau mau komentar kayak gimana
abis baca kisah mas fahmi
aku langsung liat diriku sendiri
rasanya aku terlalu ngebuang waktuku
tiap hari ngerjain hal yang tidak menentu tanpa ada tujuan yang ga jelas
aku pengen punya semangat belajar kayak mas Fahmi
sabar..
thanks buat kisahnya
lanjutin terus mas fahmi
Semoga Sukses dunia dan Akhirat
ini bukti bahwa gagal tu bukan berarti “starting to stop everything”…
kisah ini buktiin kalo gagal tu sebagai peringatan aja buat kita untuk mulai lagi dengan cara lebih baik…
thanks buat yal’akh fahmi yang dengan g sengaja udah ngasi pencerahan….
jazakallah…allah yubaariik fiiik insyaallah….
sukses buat studynya di arab mas…
Fahmi, sori aq baru bisa memberikan comment,,, sebenarnya uda lama aku baca kisahmu.. Cukup mengharukan penuh perjuangan.. Aku ga nyangka ternyata aq yang pertama ngingetin km,, heheh,,, soalnya liat emosi yang tidak terkendali gitu, harus ada yang saling mengingatkan..
Diantara semuanya kejadian yang kita alami, kita harus bisa mengambil hikmahnya,, misalnya kita jangan meremehkan masukan dan pendapat orang lain, walaupun se “kecil” apapun orang yang memberikan masukan kepada kita, mungkin aja itu merupakan titipan pesan dari ALLAH SWT kepada kita, apalagi berupa masukan dari para dosen yang “mungkin” dilalaikan fahmi dan “mungkin” menyebabkan kegagalan TA fahmi di awal…
Okeh mi, semoga di sepulang dari arab bisa memajukan Indonesia, menjadi Pengusaha yang memajukan bangsa,, (aq jg punya cita-cita kyk gt mi) heheh,,,, kalo katanya Mario Teguh, ” akhir adalah awal dari sesuatu yang baru”… Jadi manusia dalam hidup harus terus berjuang dan berinovasi agar bermanfaat sampai maut memisahkan,,,
Okeh, SELAMAT BERJUANG DI TANAH ARAB, Bro….
Keep in contact…