Meraih Ilmu
Hari Jumat selalu menjadi hari spesial bagi siapapun dia. Paling tidak bagi sebagian besar pencari karir di BUMN dan Perguruan Tinggi Negri Indonesia, Jumat adalah hari terakhir untuk masuk kerja. Namun bagi ummat muslim, Hari Jumat lebih dari itu, karena kita akan melaksanakan pertemuan besar mingguan, yaitu sholat Jumat. Hari ke-enam dalam seminggu ini sangat pas untuk evaluasi diri. Jika tidak ada hal yang baru atau suatu perubahan setelah hari ke-enam tersebut, maka ada sesuatu yang harus diubah dalam gaya hidup kita.
Sholat Jumat (22/2) di ITS minggu lalu, Pelajaran besar menghampiri diriku. Yaitu bagaimana seorang dapat memperoleh Ilmu. Tentunya ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi banyak orang, bukan ilmu yang hanya diberi simbol nilai 0-10 atau A sampai E.
Dengan Ilmu, ummat islam pada tahun 2006 berhasil menambah satu nama peraih nobel perdamaian yaitu Muhammad Yunus. Dengan ilmu, dia berhasil membuat Grameen Bank, dan berkembang memiliki cabang Grameenphone, perusahaan telekomunikasi terdepan di Bangladesh. Dengan dua hal ini dia berhasil menjadi social entrepreneur yang mengangkat banyak keluarga dari garis kemiskinan. Dengan ilmu ini pula, Azim Premji berhasil mentransformasikan perusahaan Wipro yang awalnya adalah berkomoditi minyak goreng menjadi perusahaan jasa Teknologi Informasi terkemuka di dunia. Dari segi pelayanan IT, Wipro yang memiliki nilai kualitas jasa tertinggi, mengalahkan IBM, Sun, Microsoft dan lainnya. Wipro adalah perusahaan jasa IT pertama di dunia yang memperoleh PCMM level 5 dan SEI CMM level 5.


***
Demikian hebatnya peran ilmu, saya yakin solusi ummat islam di era informasi ini adalah penguasaan ilmu itu sendiri sehingga akan melahirkan orang seperti azim premji dan muhammad Yunus lebih banyak lagi. Dengan itu Ummat ini akan benar-benar membuktikan dirinya adalah rahmat bagi seluruh alam. Lalu bagaimana agar Ummat Islam ini memiliki Ilmu? Ust Arqom, selalu khotib jumat saat itu menyebutkan enam resep dari Imam Syafi’i agar orang, organisasi, negara, ummat, bahkan dunia agar dapat memperoleh ilmu yang sebenarnya:
Cerdas: kondisi fisik tubuh yang fit, kondisi lingkungan sekitar yang sehat, kondisi nutrisi yang halalan thoyyiba sangat mempengaruhi kecerdasan generasi penerus.
Ambisi: ambisi adalah syarat untuk memperoleh ilmu. Dengan ambisi seseorang akan rela bersusah-susah untuk mencari ilmu. Nilai ambisi ini pula yang mengantarkan Wipro pada kesuksesannya saat ini. Hal tersebut dikatakan Azim Premji mengenai kondisi Wipro, “Kesungguhan kami akan keunggulan!”
Sabar: untuk memperoleh ilmu, sabar adalah syarat. Karena ilmu mensyaratkan pemahaman mendalam, yang dapat diperoleh saat si pencari ilmu mendapatkan hikmah atau pelajaran.
Harta: Pengorbanan harta menjadi salah satu syarat dalam mencari ilmu. Secara Individu kita mengakui hal itu. Namun secara negara, Jepang adalah contoh nyata bahwa pengorbanan harta untuk mencari ilmu tidak seberapa dengan dampak yang diperolehnya saat ini. Mungkin saja porsi 20% APBN untuk pendidikan masih terlalu kecil
Guru: Masih ingatkah kita pada tahun 70-an, bahwa malaysia tidak sungkan mengimpor Guru dari Indonesia yang saat itu memang berkualitas lebih baik? Alasanya karena merekalah ujung tombak dalam mendidik generasi penerus.
Waktu: Ilmu butuh waktu untuk dipelajari. Sehingga pemikiran dan visi jangka panjang adalah sesuatu keharusan. Berbeda dengan barang dagangan yang dapat segera menjalaskan nilai untung dan rugi dalam waktu singkat. Ilmu akan menjawab nilainya di masa depan.
Filed under: Manajemen | 2 Comments
Tags: Azim Premji, Grameen Phone, Ilmu, Imam Syafii, Manajemen Ilmu, Muhammad Yunus
Alhamdulillah. kemarin jumat saya bisa mendengarkan khotbah yang lumayan mencerahkan tentang bagaimana ilmu itu, sedikit tergelitik memang, tapi itu memang hal yang benar dan tak bisa disangkal, bahwa ilmu dapat meninggikan seseorang (baca: bukan sombong)…..namun yang saya belum setuju adalah salah satu poinnya yaitu ambisi, dengan ambisi seseorang bisa mendapatkan ilmu, seringkali prinsip saya mengatakan seseorang yang ambisius adalah orang yang tidak baik, karena usaha yang dilakukan cenderung menghalalkan segala cara, namun yang saya pahami adlah ambisi merupakn sebuah hasrat atau optimisme…..
semoga kita semua selalu dilindungi sinar Rahmat-Nya untuk mendapatkan ilmu yang barokah dan berkah…Amin
Ya Tantra, Alhamdulillah, akhirnya ada yang baca juga tulisan ini. Seneng sekali rasanya. Untuk istilah ambisius, saya sepakat sama tantra yaitu hasrat dan optimisme. Keduanya merupakan nilai yang menjaga sisi ambisius seseorang menjadi tahan lama dan dalam rel nilai-nilai islam secara prima.